Translate

Minggu, 16 Desember 2012

Kita Adalah Satu

Cerpen ini aku buat untuk non test B.Indonesia, dari pada di delete mendingan aku posting aja ke blog ku umarohsiti80@blogspot.com. Cerpen ini bertema "Pendidikan", amanat dalam cerpen ini "Kita harus membantu teman yang sedang dalam kesulitan".

Selamat membaca ... :)

Kita adalah satu
Bagiku sahabat adalah bukan mereka yang hanya ada di saat ku senang, tapi mereka yang selalu ada di saat ku duka. Aku bersyukur mempunyai sahabat seperti Klara, Qaila, dan Rafa, mereka yang selalu mengerti aku. Aku sahabatan sama mereka sejak aku masih kecil, sampai sekarang ini. Mungkin, karena orangtua ku dulunya juga sahabatan sama orangtuanya Klara, Qaila, dan Rafa.
Di pagi hari yang cerah, aku, Klara, Qaila, dan Rafa berangakat ke sekolah bersama-sama. Setelah kami sampai di sekolah, kami langsung masuk kelas karena bel masuk telah berbunyi. Jam pertama adalah pelajaran Matematika, Rafa sangat senang dengan pelajaran ini dan dia pun cukup pintar. Kemudian Pak Reno pun masuk ke kelas kami, dia adalah guru Matematika di sekolah kami ini.
“Anak-anak ! hari ini kita ulangan”  ujar Pak Reno.
“Haahhh ….. ! ulangan ?” kata murid-murid dengan ekspresi terkejut.
“Iya, sekarang kita ulangan” jawab Pak Reno.
“Pak kenapa ulangannya mendak kaya gini ?” tanya ku kepada Pak Reno.
“Agar Bapak tahu siapa murid yang sudah belajar dan murid yang belum belajar” kata Pak Reno sambil tersenyum. “Kalian sudah siap kan untuk ulangan hari ini ?”
“Sudah siap Pak” jawab Rafa dengan suara lantang.
“Ya sudah kalau semuanya sudah siap, mari kita mulai ulangan matematika hari ini” kata Pak Reno.
Lalu Pak Reno membagikan selembaran soal ulangan Matematika kepada semua murid di kelas. Aku pun nampak kebingungan pada saat mengerjakan soal ini, karena soalnya sangat susah sekali. Jujur saja aku memang semalam tidak belajar, karena aku terlalu asik menonton tv dan memainkan handphone.
“Rafa …! Rafa …!” kata ku dengan suara pelan.
Aku berulang kali memanggil Rafa, tapi dia tidak menoleh ke arah ku sama sekali. Mungkin memang dia benar-benar tidak mendangar suara ku, atau hanya berpura-pura tidak mendengar suara ku. Saat ku melihat jam, ternyata telah menunjukan pukul 09.15, yang menandakan bel istirahat tinggal 15 menit lagi. Tapi lembaran jawaban ku masih banyak yang belum di isi. Aku pun segera mengisi soal yang belum ku jawab, itu pun hanya dengan kira-kira saja.
“Ayo anak-anak kumpulkan lembaran jawaban dan soalnya juga di meja Bapak !” kata Pak Reno, ketika bel istirahat berbunyi.
“Tapi Pak masih banyak soal yang belum kami jawab, lalu bagaimana ?” Tanya murid-murid kepada Pak Reno.
“Ya sudah kumpulkan saja” jawab Pak Reno.
Setelah itu aku, Klara, Qaila, dan Rafa, pergi ke kantin sekolah bersama-sama untuk istirahat. Setelah sampai di kantin kami memesan makanan dan minuman kepada Ibu kantin, lalu kami mencari tempat duduk yang kosong di sana. Kami di kantin membahas ulangan matematika tadi.
“Rafa, tadi aku manggil kamu. Tapi kamu kenapa enggak menoleh ke arah ku ?” tanya aku dengan ekspresi penasaran.
“Ya maaf ! Tadi aku takut ketahuan Pak Reno, soalnya Pak Reno ngeliatin aku aja” kata Rafa.
“Iya deh aku maafin” kata ku dengan muka jutek.
“Menurut kalian soal tadi itu susah apa enggak ?” tanya Klara.
“Kalau menurut ku soal tadi itu susah” jawab Qaila.
“Aku setuju sama kamu, Qaila. Soal tadi itu susah banget” kata ku.
“Kalau menurut ku soal tadi enggak terlalu susah juga, lumayan gampang” jawab Rafa.
“lumayan gampang dari mana ? Soal tadi itu susah banget Rafa, aku setuju sama kalian semua kecuali Rafa” kata Klara dengan muka sinis.
“Tau tuh Rafa” kata Qaila.
“Kita semua tau kalau kamu itu memang pinter matematika, tapi jangan sombong gitu dong Rafa !” kata ku.
“Aku enggak bermaksud sombong, kenapa kalian jadi kaya gini ?” tanya Rafa.
Lalu bel masuk pun berbunyi, aku, Klara, Qaila, dan Rafa, serta murid-murid yang lainnya pun memsuki kelasnya masing-masing. Selanjutnya kita memasuki pelajar ke dua yaitu IPA. Kemudian Pak Alex memasuki kelas kami, dia adalah guru IPA di sekolah kami, orangnya pun asik. Tak terasa bel pulang berbunyi, mungkin karena terlalu asik belajar IPA jadi tak terasa.
Aku, Klara, dan Qaila berjalan keluar kelas, dan Rafa menghampiri kami. Akhirnya kami berempat pun pulang bersama-sama.
“Rafa, bagaimana kalau kita belajar Matematika bersama ?” tanya Qaila.
“Ya benar kata Qaila, bentar lagi kita kan Ujian Nasional” jawab Klara.
“Ya sudah terserah kalian saja, tapi mau di rumah siapa ?” kata Rafa.
“Eemm …., di rumah ku saja” usul ku.
“Aku setuju” kata Rafa.
Ke esokan harinya, pada hari minggu yang sejuk Klara, Qaila, dan Rafa pergi ke rumah ku untuk belajar Matematika bersama-sama. Rafa yang mengajari aku, Klara, dan Qaila tentang rumus-rumus Matematika. Lalu Rafa memberikan soal kepada kami, dan kami pun mejawab soal itu dengan benar. Kami senang karena akhirnya kami bisa mengerti tentang pelajaran ini. Karena minggu yang akan datang kami akan menghadapi Ujian Nasioanal.
Seminggu kemudian, kami menghadapi Ujian Nasional dan pada hari pertama adalah pelajaran Matematika. Berkat Rafa yang telah mengajari ku Matematika, aku bisa mengerjakan soal-soal Ujian Nasional dengan baik.
“Rafa, makasih ya. Berkat kamu tadi aku bisa mengerjakan soal-soal Ujian Nasional dengan baik” kata ku.
“Makasih ya Rafa” kata Qaila.
“Iya Rafa, makasih ya” kata Klara.
“Iya, sama-sama. Aku senang bisa bantu sahabat-sahabat ku” jawab Rafa.
“Semoga kita mendapatkan hasil yang memuaskan” ujar ku.
“Amin ….!” Kata kami secara bersamaan.
Sekitar dua minggu kemudian, nilai hasil Ujian Nasional dibagikan. Dan hasilnya kami semua lulus dengan hasil yang sangat memuaskan. Kami pun merayakan kelulusan kami itu dengan makan-makan di rumah ku. Pada hari itu kami semua sangat senang, karena kami semua lulus dengan hasil yang memuaskan. Tapi keadaan menjadi hening, ketika kami memikirkan akan melanjut kan kemana kita nantinya.
“kita kan udah lulus, jadi kita bakalan pisah dong ?” tanya ku.
“Iya benar juga, pasti nanti kita akan melanjutkan ke sekolah yang berbeda-beda” jawab Rafa.
“Tapi aku enggak mau pisah sama kalian semua” kata Qaila dengan ekspresi sedih.
“Aku juga gak mau pisah sama kalian” kata Klara.
“Pokoknya kita enggak boleh pisah, walau pun nanti kita beda sekolah” usul ku.
“Aku setuju, kalau kita beda sekolah nanti kita harus sering-sering kumpul kaya begini” usul Rafa.
“Iya, jadi di antara kita jangan ada yang sombong yah !” kata Klara.
“Walaupun kita nanti beda sekolah tapi kita tetap satu” kata Qaila.
“Setuju …! Kita kan satu untuk semua dan semua untuk satu” kata ku, Klara, Qaila, dan Rafa secara bersamaan.
Akhirnya, walaupun kita sekolah SMAnya beda-beda sekolah. Tapi buktinya kita sampai sekarang ini masih sahabatan kaya dulu. Dan dari aku, Klara, Qaila, dan Rafa tidak ada yang berubah. Kita enggak saling sombong, ingkar janji, dan yang lainnya. Kita memang satu untuk semua dan semua untuk satu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar